Teknologi Connected Building, Gedung Dapat Hemat Energi 35 Persen

0
1536

Blog.Reincostrategic.Com, JAKARTA – Beberapa tahun belakangan terjadi perubahan drastis dari investasi di sektor properti, terutama bangunan commercial realestate.

Dahulu orang berbicara properti hanya soal lokasi, lokasi, dan lokasi. Kini, faktor keamanan, efisiensi energi, perilaku konsumen, produktivitas, isu lingkungan, serta sistem yang terintegrasi dan otomatisasi menjadi pertimbangan penting.

“Sekarang kita lihat tren itu berubah. Lokasi tetap nomor satu, tapi ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi keputusan orang untuk melakukan investasi properti terutama gedung,” kata Dharma Simorangkir, Strategy & Market Development Director PT Honeywell Indonesia, Selasa (31/10).

Hal itu, sambungnya, membuat developer gedung dan stakeholders berpikir bagaimana caranya membantu menghadapi tren-tren ini.

“Kalau dilihat dari data, tren supply demand bangunan commercial realestate seperti gedung pada periode 2017-2020 diperkirakan akan ada tambahan 40% office space di Jakarta, di Bali tambah 20% untuk hotel. Itu sangat signifikan,” paparnya.

Dharma menjelaskan, Honeywell sebagai penyedia solusi menerjemahkan faktor-faktor tersebut di tengah pertumbuhan commercial realestate sebagai sebuah tantangan dan peluang. “Kami mau ditantang untuk memberikan nilai tambah (value) bagi bangunan gedung,” ujarnya.

Salah satu solusi, kata dia, Honeywell menerapkan teknologi connected building dengan konsep digital twin (kembaran digital). Teknologi ini akan memberikan gambaran menyeluruh (holistik) tentang seluruh aktivitas di gedung.

“Kami pasang sensor-sensor di seluruh gedung yang akan memberikan informasi holistik. misalnya, di lobi ada berapa lampu yang nyala, berapa pemakaian listrik di gedung itu, ada berapa orang berada di lobi itu. Ada berapa orang yang masuk lewat lobi utama. Semua data itu dikumpulkan melalui sensor-sensor yang dimasukkan dalam software dan diintegrasikan dengan teknologi digital twin. Baru setelah itu dilakukan analisa,” paparnya.

Pada tahap analisa, lanjut dia, yang dilakukan pertama kali adalah monitoring sistem, kemudian analisis pola (pattern), analisis sebab akibat, serta yang terakhir rekomendasi. “Jadi semuanya itu, kita bisa lakukan jika menerapkan industry internet of things, atau teknologi connected buildings,” ucapnya.

Dia mencontohkan, teknologi terbaru ini sudah diterapkan di menara tertinggi di dunia, yakni Burj Khalifa di Dubai, Uni Emirat Arab. Hasilnya, biaya operasional terutama energi termasuk listrik, air, dan sumber energi lainnya dapat dihemat 35% per tahun.

Teknologi termutakhir yang dikuasai Honeywell itu telah teruji pada lebih dari 10 juta gedung di penjuru dunia, termasuk Burj Khalifah. “Prinsipnya reduce atau eliminate. Jadi kita dapat mengetahui tempat yang kita bisa reduce inefisiensi energi, dimana tempat yang kita bisa eliminate,” katanya.

Menurut dia, teknologi itu juga dapat diterapkan di gedung-gedung tua yang boros energi. Hal ini dapat mendukung program pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang mulai memperhatikan isu energi dan isu lingkungan untuk commercial realestate.

sumber : properti.bisnis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here